Mengapa Menulis?
Menulis itu semacam terapi (setidaknya bagi diriku)—ini sebuah cara sederhana untuk tetap waras di tengah carut-marut sosial, politik, dan ekonomi yang membuat hidup kian sesak dan kehilangan arah.
Setiap hari aku berusaha menulis, tidak harus banyak dan tidak harus sesuatu yang serius, tapi andai kata suatu hari tak menulis pun juga tak mengapa—namanya juga berusaha, kadang ada fase bosan dan menyerah. Tentu hal ini bukan sebuah upaya untuk mengejar profesionalitas. Tulisan-tulisanku jelas tidak mendatangkan uang, bahkan jika dilihat dari kacamata ekonomi modern, ini adalah aktivitas sia-sia—sejenis usaha yang tidak berprofit. Menurutku malah justru itu menjadi hal menyenangkan, aku menulis bukan bertujuan untuk dinilai, bukan pula untuk dipasarkan, apalagi untuk mengejar sebuah target. Sederhana saja, aku menulis untuk memahami diriku, juga hal-hal di sekitarku, yang seringkali terabaikan dalam riuhnya dunia. Tentu hal-hal disekitar akan jadi lebih kongkrit saat dituliskan. Ada juga suatu kenikmatan yang sulit dijelaskan dalam sebuah upaya menulis tanpa beban. Mungkin semacam onani pikiran—sebuah pelepasan, katarsis, pengakuan tanpa penghakiman.
Tentu dengan sadar aku menulis, tanpa peduli apakah ada yang membaca tulisanku atau tidak. Aku rasa itu tidak akan mengurangi maknanya. Tulisan-tulisan itu, meski hanya akan berakhir di ruang-ruang digital ataupun jika mungkin dicetak hanya akan berakhir di rak tua yang berdebu, setidaknya ia pernah menjadi jejak bahwa aku pernah ada. Aku pernah memikirkan sesuatu—meskipun mungkin itu adalah sesuatu yang tidak begitu penting. Meskipun ya andai kata aku tidak ada pun juga tak mengapa.
Setiap halaman yang kutulis adalah jejak kecil yang berdamai dengan kefanaan. Juga sebentuk usaha kecil melawan sunyi terhadap kenyataan bahwa suatu hari nanti tubuh ini akan membusuk. Aku sadar bahwa aku tidak akan meninggalkan warisan megah—bak manusia kaya raya, tetapi aku (mungkin) setidaknya meninggalkan hidup dalam kata-kata—sebuah fragmen keberadaan yang abadi dalam cara yang tak kasat mata.
Aku menulis tentang apapun yang menggugahku: saat aku merasakan alam, saat mendengar cerita problematika dari teman dan orang-orang disekitar, juga saat aku gelisah dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup, dan tentu juga saat setelah menutup halaman terakhir sebuah buku yang baru selesai kubaca.
Menulis mengajariku untuk hadir secara penuh dalam sebuah momen, untuk memperhatikan detail yang mungkin tidak penting, untuk menghargai apa yang sering luput dari kesibukan sehari-hari. Ini juga sebagai latihan, semacam mindfulness secara sederhana. Sekaligus sebuah tantangan menghadapi diriku sendiri, jujur dengan pikiranku, dan menuangkannya perlahan ke dalam kata-kata. Tentu ini sungguh menyenangkan.
Meski juga ada paradoks yang tidak bisa kupungkiri. Betapapun aku berusaha menganggap tulisan-tulisanku sebagai aktivitas pribadi yang murni, pastinya tetap ada hasrat keinginan halus yang mengendap. Keinginan-keinginan untuk diingat, untuk dianggap penting, untuk dikenali, untuk diberi makna oleh orang lain. Aku memang merasa menulis tanpa peduli dibaca, namun mungkin dalam hati kecil itu aku juga berharap ada yang menemukan serpihan kata-kata itu dan merasa sedikit lebih mengerti dunia berdasar tafsirku. Cukup manusiawi. Begitulah hakikat manusia, selalu ingin bebas tidak terikat, namun sebenarnya diam-diam ia juga ingin dipahami.
Aku juga menyadari bahwa menulis sebetulnya juga tidak selalu menyenangkan. Kadang-kadang ia justru membuka memori luka-luka yang selama ini tersembunyi rapi. Atau mungkin malah justru itu fungsi lainnya, menulis bukan untuk menghapus rasa sakit. Menulis bisa jadi malah hanya sekedar untuk memberi bentuk, memberinya nama.
Menulis bagiku tidaklah dimaksudkan sebagai sebuah misi mulia atau perjalanan menuju kejayaan. Ini benar-benar hanyalah cara sederhana untuk tetap hidup. Satu kalimat demi satu kalimat, melawan keheningan yang kelak menelan manusia. Jika ada yang membaca, anggaplah itu bonus kecil dari semesta. Jika tidak ya tak mengapa, biarlah tulisanku hanya menjadi sesuatu yang tak berarti apa-apa dalam suatu hening. Aku sadar ia hanyalah sekedar tanda kecil bahwa aku pernah mencoba ada, mencoba bertahan, mencoba mencintai hidup ini meski dengan tangan yang gemetar.
Kota Gelap, 28 April 2025

