#2 JURNAL Y
01.07.2025 Pakarsajen & Suroan
Selasa, 1 Juli 2025
Sekitar pukul 05.30, aku dan Atta mulai merencanakan untuk melanjutkan pembuatan video Coconut Project. Pukul 06.00, kami sudah tiba di lokasi. Matahari baru saja muncul, cahayanya menyilaukan, dan jalanan masih lengang dari lalu-lalang kendaraan. Kami memang sengaja memilih waktu pagi karena pada pukul 08.00 masing-masing dari kami harus kembali ke pekerjaan utama.
Tanpa disadari, Coconut Project membuatku—atau lebih tepatnya memaksaku—kembali membiasakan diri bangun sangat pagi untuk memulai aktivitas. Awalnya memang terasa cukup berat, terutama karena berdampak pada pola tidur. Aku pun mulai menyesuaikan waktu istirahat, berusaha tidur lebih awal agar bisa bangun dalam kondisi segar dan bertenaga.
Hal baik lainnya, selama pengambilan gambar dan video kami berjalan kaki hampir dua jam. Aktivitas ini tentu baik untuk kesehatan, belum lagi kami bisa merasakan hangatnya matahari pagi di sepanjang jalan yang kami lalui. Sekitar pukul 08.00, kami menyelesaikan sesi pengambilan gambar dan kembali ke rutinitas pekerjaan masing-masing.
Kemudian Malamnya, Yudi mengajak kami berkunjung ke Pakarsajen (Paguyuban Karawitan Sastra Jendra). Sebelumnya, kami berkumpul lebih dulu di kantin, baru kemudian berangkat bersama-sama ke sana. Di kantin, aku dan Yudi sudah lebih dulu tiba, lalu disusul oleh Nena. Sudah cukup lama Nena tidak mengunjungi kampus, jadi wajar jika ia tampak sedikit bingung melihat banyaknya perubahan—misalnya, area parkir kini terpusat dan tidak lagi tersebar di masing-masing fakultas. Kantin pun telah dipindahkan ke satu lokasi yang berdekatan dengan tempat parkir.
Sambil duduk di sana, aku sempat menceritakan bahwa belakangan ini aku kembali tertarik dengan sejarah. Obrolan kami pun berubah menjadi sesi nostalgia, mengingat kembali masa-masa kuliah dulu. Seperti biasa, Yudi mulai membahas soal IPO, sementara Nena asyik mengulas dunia perkopian serta menceritakan salah satu temannya yang juga tertarik dengan sejarah. Setelah cukup lama berbincang, kami pun mengakhiri percakapan dan bergegas menuju ruang gamelan di FIB.
Sesampainya di sana, ternyata acaranya sudah usai. Anak-anak Pakarsajen sedang menikmati tumpeng bersama. Setelah sekian lama tak menginjakkan kaki di ruang ini, aku seperti ditarik kembali ke masa lalu. Ruangan ini menyimpan begitu banyak kenangan; ia pernah menjadi bagian penting dari kehidupanku semasa kuliah.
Dulu, Yudi—yang waktu itu menjadi ketua Pakarsajen—bersama teman-teman lainnya, sering mengadakan pertunjukan yang penuh semangat. Pertunjukan-pertunjukan itu bukan sekadar pentas seni, melainkan perayaan kreativitas yang memadukan gamelan, musik modern, drama, dan tari. Sebuah genre campuran yang unik, semacam gado-gado yang justru menjadi ciri khasnya. Menurutku, acara-acara itu menjadi wadah bagi keberagaman bakat dan ekspresi teman-teman yang luar biasa berwarna.
Kami menjalani prosesnya bersama, dengan segala suka cita, kelelahan, dan—tentu saja—drama di balik layar. Tapi justru di sanalah letak kesenangannya. Kenangan akan kebersamaan itu membuatku rindu. Salah satu acara yang paling kuingat bernama Ngangsu Candra Kidung (versi lengkap tonton di sini). Aku tidak terlalu tahu asal-usul penamaannya, hanya saja sejak awal memang sudah dinamakan begitu, dan kemudian menjadi tradisi tahunan yang dinanti-nanti.
Kami kemudian berbincang dengan para anggota Pakarsajen generasi sekarang—di sela-sela itu datang Kendel dan Dombles. Memang, hubungan antara angkatan kami dan mereka sempat terputus cukup lama akibat pandemi—selama masa itu, kami tak bisa berkunjung, dan kegiatan di sana pun nyaris tidak ada. Maka pertemuan malam itu terasa istimewa, seperti menyambung kembali tali yang sempat renggang.
Saat melihat segala keperluan dan pernak-pernik terkait acara Suroan di ruang gamelan, aku benar-benar terkesima. Bagiku pribadi, ini mungkin acara Suroan yang paling serius dan tertata yang pernah kulihat di ruangan ini. Semuanya tampak dirancang dengan niat dan struktur yang matang—cukup untuk membuatku kagum.
Di sela-sela itu, aku juga berkenalan dengan salah satu anggota Pakarsajen yang rupanya sedang menempuh semester akhir—katanya sebentar lagi akan sidang. Ternyata, ia adalah bagian dari Oud Soerabaja, yang aktif menelusuri bangunan-bangunan kolonial dan menyelenggarakan tur jalan kaki keliling kota. Ia bercerita bahwa saat ini sedang meneliti Benteng Prins Hendrik—topik yang jelas menarik perhatianku. Kami sempat mengobrol cukup panjang tentang sejarah Surabaya, terutama soal tata letak istana atau kraton masa lalu.
Sungguh, malam itu terasa menyenangkan—hangat, penuh cerita. Semoga akan ada momen seperti ini lagi.
video-video nostalgia pakarsajen lainnya di https://youtube.com/playlist?list=PL8HLG_rj_YSeQXU6XcM2R3fOcjGANoY6Q&si=_3SVGfhyVyesICB3





