#1 JURNAL Y
30.06.2025 Coconut Project, Peta Lama & Crambangang
Senin, 30 Juni 2025
Aku menulis ini pada tanggal 30, meski yang kutuliskan adalah kejadian-kejadian dari hari-hari sebelumnya. Salah satunya, pada 3 Juni 2025, ketika aku dan Atta berencana berenang bersama. Tapi sesampainya di lokasi, rencana itu pupus—kolam renang ternyata sedang dalam renovasi, dan kami berdua cukup kecewa.
Akhirnya, kami berbelok ke sebuah warkop dekat UNAIR. Di sanalah Atta membuka obrolan soal membuat kanal YouTube yang mendokumentasikan perjalanan wisata kami. Ide itu langsung terasa akrab dan masuk akal. Setelah berbincang cukup lama, kami pun menyepakati satu nama: Coconut Project.1
Proyek pertama kami adalah menjelajah Wisata Kota Lama Surabaya. Jujur, tak banyak persiapan yang kami lakukan. Kami datang ke lokasi sebanyak dua kali, namun hasilnya belum memuaskan. Data video yang sudah kami ambil ternyata terlalu besar untuk diedit di gawaiku—tentu aku mengedit menggunakan aplikasi sejuta umat capcut yang free (harap maklum, mode seadanya). Akhirnya, kami harus mengulang pengambilan video.
Tapi bahkan setelah itu, hasilnya masih belum seperti yang aku bayangkan. Video terasa kurang terkonsep, banyak pengulangan, minim informasi, dan secara teknis pun belum rapi. Meski begitu, mungkin justru dari kekacauan kecil seperti inilah kami bisa belajar. Bahwa merintis sesuatu memang tidak selalu mulus—mungkin itu justru bagian paling pentingnya.
Kamis, 6 Juni 2025 akhirnya video kami upload.
Meskipun masih banyak kurang di sana-sini, ini tetap patut dirayakan dan disyukuri. Sebuah karya pertama kami (coconut ptoject). Cukup menyenangkan mengerjakan ini.
Pasca pembuatan video pertama, aku mulai merasa perlu belajar lebih banyak tentang sejarah—bukan sekadar untuk keperluan dokumentasi, tapi karena ada dorongan yang lebih dalam. Sejarah mendadak terasa hidup, dekat, dan personal. Mungkin karena kedekatan emosional dengan tempat tinggal—Surabaya.
Krembangan & Peta Lama Surabaya
Rasa penasaran itu membuatku bersemangat. Aku mulai membaca buku-buku sejarah yang berkaitan dengan Surabaya. Beberapa di antaranya:
Ras, kelas, bangsa: politik pergerakan antikolonial di Surabaya abad ke-20, karya Andi Achdian.
Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960an, karya Purnawan Basundoro
Selain membaca buku, belakangan aku juga mulai tertarik menelusuri peta-peta lama Surabaya—beserta nama-nama tempat yang kini kadang hanya tersisa sebagai kenangan samar. Ada sesuatu yang ganjil namun memikat ketika melihat bagaimana kota ini dulu ditata, dibagi, dan diberi nama.
Tak hanya peta, aku juga larut dalam foto-foto lama Surabaya. Setiap gambar seperti menyimpan percakapan diam dari masa lalu—tentang jalan yang berubah, bangunan yang lenyap, atau wajah-wajah yang kini tak dikenal tapi pernah hidup di jalan yang sama. Semua itu seperti mengajak untuk melihat Surabaya bukan hanya sebagai kota yang kita tinggali, tapi sebagai jejak yang terus bertumpuk, saling menindih, saling melupakan.
Salah satu nama yang langsung mencuri perhatianku adalah: Krembangan. Entah mengapa, ada sesuatu dalam nama itu yang terasa misterius. Seolah menyimpan cerita yang belum selesai dituturkan. Nama itu muncul di peta-peta lama.
Aku pun mulai menelusuri lebih dalam, di mana tepatnya letak Krembangan dahulu? Apakah batas-batasnya masih sama dengan yang sekarang? (Pembahasan ini tidak kronologis, karena aku hanya menulis berdasar apa yang aku pikirkan dan temukan saat ini, untuk pembahasan lebih mendalam akan aku tuangkan di tulisan lain—mungkin di bagian artikel blog ini)
Krembangan bukan sekedar lokasi di peta, ia semacam simpul sejarah. Di sanalah kawasan Kota Lama Surabaya berada—berdiri rumah-rumah elit Eropa, barak-barak militer, dan kawasan padat tempat masyarakat bumiputra tinggal berdempetan. Kontras sosial dan spasialnya menyimpan banyak lapisan, dan justru dari situ rasa penasaranku tumbuh semakin dalam.
Kemarin malam, aku mulai mengumpulkan potongan-potongan data tentang nama Krembangan. Langkah pertamaku adalah menelusuri peta-peta lama. Salah satu yang paling menarik kutemukan adalah peta Surabaya tahun 1787 (sesuai keterangan di wikimedia). Di situ, nama kaaly Crambangang muncul—bukan sebagai sebuah nama kampung melainkan sebagai nama sungai kecil yang bermuara langsung ke pantai utara Jawa.
Penemuan kecil itu membuatku terdiam sejenak. Sebuah nama yang kini kita kenal sebagai kawasan administratif ternyata berakar dari tubuh air, dari aliran yang dulu mungkin saja menjadi nadi kehidupan suatu perkampungan.

Teks keterangan pada peta aku dapatkan dari wikimedia sedangkan untuk gambar peta aku dapatkan dari nationaalarchief.nl (tambahan: pada tanggal 2 Juli 2025, gambar peta pada website tidak bisa diakses lagi, ketika di klik gambar peta yang diinginkan malah tidak muncul petanya. Entah mengapa).
Keterangan dalam peta:
Sourabaya en omleggende landereyen
A. Mond van de grote rivieren
B. aarde battery in de laaste oorlog op geworpen
C. bandaareyen
D. Twee battereyen
E. oude loop van de sourabaaysche riviere
F. kaaly anak
G. kaaly crambangang
H. sout riviere
I. t' fort belvidere
K. de stad
L. maleysche campong
M. chinese campong
N. javaansche campong
O. passeebaan
P. wooning van de cerste regent
Q. wooning van de tweede regent
R. Tempel
Pada keterangan peta tersebut aku juga tertarik dengan kata ‘battery’. Aku belum menemukan apa yang dimaksud kata itu pada peta tersebut.
Ok, agak menyimpang. Ketika aku sedang mengamati peta Soerabaja en omstreken 1880—mengapa 1880? karena bagian bawah pojok kanan peta tertulis Topographisch Bureau Batavia 1880 jadi aku rasa peta itu menunjukan tahun 1880—aku menemukan satu lokasi di peta yang bertanda merah dan berbentuk persegi (kemungkinan artinya bangunan berbatu-bata) yang bertulis Armengesticht Semaroeng sebuah nama yang cukup membuat penasaran untuk kesekian kalinya. Ketika ku masukan ke dalam google translite malah terjemahannya menjadi Rumah Miskin Semaroeng. Apakah Semaroeng ini nama orang atau apa? dan sepertinya terjemahannya kurang meyakinkan terkait kata Armengesticht. Aku juga tidak tahu artinya apa, apakah semacam panti atau semacam penjara atau lainnya, kiranya perlu pencarian lebih dalam di lain kesempatan.

Setelah pembicaraan ini ke sana ke mari, ada baiknya aku kembali membahas Krembangan. Aku menemukan kata itu lagi, namun bukan di peta lama tapi di postingan facebook Pak Wahjudi Djaja :
Rembang Kata Jawa ini artinya membabat, memangkas atau memotong, dalam pengertian panen.
Sanajan arite kethul Paijo melu rembang tebu.
Lalu aku bertanya : apa kata krembangan berasal dari kata rembang?
Pak Wahjudi Djaja menjawab : Iya mas, kata dasarnya rembang, menjadi ngrembang (mbabat) dan krembangan
Aku kembali menanyakan : mbabat di sini apakah identik dengan tebu pak? atau bisa tanaman lain? Berarti jika ada tempat bernama krembangan, apakah bisa jadi dahulu adalah daerah ladang tebu?
Pak Wahjudi Djaja menjawab : memang khusus tebu mas. Mungkin ada juga,. spt nama kabupaten di Jateng juga toponiminya dari aktivitas panen tebu.
Beliau menambahkan : nah, apalagi ada jejak kota kolonial mas. Kemungkinan besar latar sejarahnya sama sekitar aktivitas tebu..
Dari percakapan itu, pikiranku mulai mengembara. Jika benar bahwa tanaman tebu baru diperkenalkan secara masif di Jawa saat kedatangan Belanda, maka kemungkinan besar nama "Krembangan" juga merupakan nama yang muncul belakangan—nama yang tumbuh seiring aktivitas kolonialisme, bukan nama yang berasal dari akar kosmologi lokal.
Kalau "Krembangan" memang berkaitan dengan aktivitas pengolahan tebu—dari istilah "ngrembang" atau "krembangan" sebagai aktivitas membabat batang tebu—maka nama itu mungkin tidak hanya menunjuk lokasi geografis, tetapi juga jejak ekonomi kolonial yang menanamkan dirinya ke dalam lanskap bahasa. Dengan kata lain, nama tempat pun bisa menjadi arsip diam dari kekuasaan: ia tidak sekadar penanda ruang, tapi juga penanda sejarah yang menyembunyikan relasi kuasa di balik bunyinya yang terkesan netral. Aku mulai bertanya-tanya: berapa banyak nama tempat lain di kota ini yang muncul karena fungsi ekonomi kolonial? Dan bagaimana nama-nama itu tetap hidup, bahkan setelah kekuasaan yang melahirkannya pergi?
Tapi aku masih belum puas dengan jawaban ini. Aku bertanya lagi kepada seseorang di facebook, yakni Pak Sudi Harjanto. Saya menemukan postingan fotonya yang mempotret tempat pesarean Mbah Buyut Rembang. Saya menananyakan pada beliau apa foto di lokasi itu terkait dengan nama Boejot Remban yang ada di Kaart van Soerabaja 1825 dan kira-kira apa maknanya (Remban)?. Pak Sudi menjawab:
bisa jadi, Remban ~ mari , waras (sembuh)


Aku belum bisa menyimpulkan apa pun dari bukti-bukti ini. Rasanya semuanya masih terlalu awal, terlalu rapuh untuk dipastikan. Aku butuh lebih banyak sumber, lebih banyak waktu, dan mungkin juga lebih banyak keheningan untuk memahami arah pencarian ini.
Catatan hari ini cukup sampai di sini. Aku akan berusaha menulis setiap hari—tentang apa yang kulakukan, yang kupikirkan, yang kutemukan, sekecil apa pun itu (mungkin akan sangat acak). Bukan hanya sebagai dokumentasi, tapi juga sebagai cara untuk menjaga nyala rasa ingin tahu.



